Fakta Sri Wahyumi, Bupati Cantik yang Disuap Berlian dan Tas Mewah

Sri Wahyumi Manalip
Sri Wahyumi Manalip

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menangkap seorang pengusaha kontraktor yang diduga membeli barang-barang mewah senilai hampir setengah miliar rupiah untuk menyuap Bupati Kepulauan Talaud Sri Wahyumi Maria Manalip untuk memenangkan proyek-proyek administrasi lokal di daerah tersebut.

Bernard Hanafi Kalalo ditangkap pada Senin malam di sebuah hotel di Jakarta ketika ia diduga sedang bersiap-siap untuk mengirimkan barang-barang itu kepada orang kepercayaan Sri, Benhur Lalenoh.

Wakil ketua KPK Basaria Panjaitan mengatakan Bernard membeli dua tas, arloji dan satu set perhiasan berlian senilai Rp 463,8 juta di pusat perbelanjaan di Jakarta pada Minggu malam dan bertemu Benhur pada hari berikutnya sebelum mereka berencana untuk kembali ke Korea Utara. Kabupaten Sulawesi menyerahkan barang-barang tersebut sebagai hadiah ulang tahun untuk Sri.

Pengusaha itu diduga membeli barang-barang untuk sang bupati sehingga ia dapat mengamankan proyek revitalisasi dua pasar tradisional di kabupaten tersebut.

“Pada malam 29 April, penyelidik KPK menangkap Bernard, Benhur dan supirnya,” katanya pada konferensi pers pada hari Selasa.

KPK menangkap pejabat kabupaten Ariston Sasoeng di Manado, ibukota provinsi, beberapa jam kemudian, dan bupati di kantornya di Pulau Karakelong, yang lansgung dikirim ke KPK di Jakarta.

Sri, yang telah kalah dalam pemilihan kepala daerah (PILKADA) tahun lalu itu, adalah istri seorang hakim di Sulawesi Utara dan dikenal karena minatnya dalam olahraga ekstrem dan gaya hidup yang tinggi.

Setelah mendapat reputasi kurang baik di antara partai-partai politik karena dugaan pemborosan dan keputusan ekstremnya, ia digulingkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dan Partai Hanura hingga akhirnya terjun secara independen untuk masa jabatan keduanya pada Pilkada tahun 2018.

Di bulan-bulan terakhir masa jabatannya saat ini, ia menangguhkan puluhan pejabat tinggi di kabupaten itu, menyebabkan timbulnya gangguan dalam administrasi kabupaten. Sri Wahyumi menjabat sebagai Bupati Kepulauan Talaud periode 2014-2019.

Ketika ia tiba di kantor KPK pada Selasa malam, Sri mengaku tidak tahu menahu tentang hadiah itu.

“Saya sangat bingung karena saya tidak menerima barang dan tiba-tiba mereka membawa saya ke sini. Tidak benar bahwa saya telah menerima hadiah. Itu tidak benar, “katanya.

KPK mengatakan di antara barang-barang yang akan diterima Sri adalah tas tangan mewan Chanel dan Balenciaga, arloji Rolex dan cincin berlian serta anting-anting.

Tidak Ingin Barang Mewah yang Sama dengan Bupati Lain (Update)

Menurut keterangan KPK, Sri tidak ingin sembarang barang mewah. Komisi Pemberantasan Korupsi mengatakan pihaknya telah menyadap komunikasi antara dia dan tangan kanannya, Benhur Lalenoh, tersangka lain dalam kasus itu, merinci merek tas dan ukuran jam tangan yang diinginkannya.

“Mereka membahas tentang permintaan tas Hermes, dan bupati itu tidak ingin mendapatkan model yang sama dengan milik bupati perempuan lain di Sumatera Utara,” kata wakil ketua KPK Basaria Panjaitan dalam konferensi pers pada hari Selasa malam.

Dia dituduh meminta kontraktor tersebut bagian 10 persen sebagai imbalan atas pemberian proyek kepada mereka di Kabupaten Talaud.

Selain Sri dan Benhur, seorang pengusaha bernama Bernard Halafi Kalalo juga ditangkap oleh KPK setelah ia membeli dua tas tangan, arloji Rolex dan perhiasan berlian di Jakarta, barang yang diyakini dimaksudkan untuk menyuap Sri Wahyumi.

Leave a Comment