Beranda Dunia 5 Fakta Aneh Kehidupan di Jepang yang Bikin Geleng Kepala

5 Fakta Aneh Kehidupan di Jepang yang Bikin Geleng Kepala

Tak bisa dipungkiri, Jepang memang telah terkenal dimana-mana akan kecanggihan dunia teknologinya. Sering disebut sebagai”Land of the Rising Sun” atau Negara terbitnya matahari, Jepang telah menjadi basis bagi beberapa perusahaan terbesar dunia seperti Toyota, Suzuki,Yamaha, Sony, Honda, dan banyak lagi.

Namun di balik semua itu, Jepang ternyata memiliki sisi lain yang pasti akan membuat orang merasa aneh dan keheranan. Berikut adalah daftar 5 fakta aneh tentang Jepang yang bisa bikin kita geleng-geleng kepala.

Sekitar 98% orang yang diadopsi di Jepang berada di antara kelompok usia 20-30 tahun sehingga bisnis keluarga tetap dalam keluarga

Adopsi orang dewasa di jepang

Adopsi orang dewasa di jepang

Ada tradisi berabad-abad di Jepang di mana orang-orang, biasanya dari kelas bisnis, mengadopsi laki-laki dewasa baik dari dalam keluarga atau dari luar keluarga.

Jika sebuah keluarga tidak memiliki ahli waris laki-laki yang cakap atau jika tidak ada laki-laki sama sekali, mereka akan mengadopsi kerabat laki-laki terdekat atau menikahkannya dengan salah satu putrinya sendiri terutama untuk menjaga agar bisnis tetap hidup.

Praktek ini telah dilakukan selama bertahun-tahun, dan hari ini, adopsi pria dewasa mencapai  nilai mengejutkan sebanyak 98% dari semua total adopsi. Banyak perusahaan terkemuka seperti Toyota, Suzuki, Matsui Securities, dll., dijalankan oleh anak-anak yang diadopsi.

Meskipun tradisi ini berumur ratusan tahun, sampai hari ini dan seterusnya dipastikan masih akan terus tetap berjalan.

Karena populasi yang semakin menua, sistem adopsi orang dewasa ini memainkan peran penting dalam tidak hanya menjaga bisnis keluarga tetap hidup tetapi juga memainkan peran penyeimbang dalam perekonomian.

Meskipun tradisi mengadopsi pria dewasa ini terdengar aneh, itu adalah salah satu faktor paling penting yang membuat perusahaan bisnis yang sudah berdiri berabad-abad seperti Hoshi (didirikan 781 masehi) tetap hidup.

Di Jepang, ada lebih dari satu juta orang dikenal sebagai “hikikomori” yang telah sepenuhnya terisolasi dari masyarakat selama bertahun-tahun.

Manusia hikikomori di Jepang

Manusia hikikomori di Jepang

Hikikomori adalah orang-orang yang menderita penarikan diri dari kehidupan sosial akut dan benar-benar menjauhkan diri dari pergaulan sehari-hari. Orang-orang yang terkena biasanya membatasi diri dengan mengurung terus menerus di kamar-kamar kecil dan hampir tidak memiliki kontak dengan manusia lain.

Jika masih anak-anak, mereka sepenuhnya akan bergantung pada orang tuanya untuk mata pencaharian dan itupun hanya seperlunya saja.

Ada hikikomori yang hidup dalam keadaan pengasingan ekstrem selama lebih dari tujuh tahun. Alasan kenapa mereka seperti itu bisa berbeda-beda dari satu orang dengan orang lainnya. Dua alasan utamanya adalah tekanan ekspektasi yang ekstrem dari orang tua dan beban tanggung jawab ekonomi.

Alasan utama lainnya adalah ketakutan akan kegagalan yang dapat dikaitkan dengan harapan yang terlalu tinggi tapi tidak atau belum pernah terwujud.

Menurut data pemerintah, sekitar 540.000 hikikomori dari perkiraan total satu juta berusia antara 15-39 tahun. Orang-orang ini tidak punya teman, makan makanan di dalam kamarnya, dan pergi ke luar rumah sangat jarang. Mereka berbicara sangat sedikit dan sebagian besar membenci dirinya sendiri.

Di Jepang, kematian karena terlalu banyak bekerja adalah hal yang biasa sehingga memiliki istilahnya sendiri yaitu “Karoshi”, dan ada Jaringan Hotline khusus untuk menangani dan membantu Karoshi dan keluarganya

Mati akibat kebanyakan bekerja
Mati akibat kebanyakan bekerja

Sebagian besar penduduk Jepang bekerja selama berjam-jam dengan durasi sangat panjang sehingga meningkatkan jumlah kematian karena pekerjaan yang berlebihan. Sebagian besar dari orang-orang ini melakukan bunuh diri karena tekanan dan tekanan yang begitu berat, dan tidak sedikit yang mengalami serangan penyakit stroke.

Istilah “karoshi”, yang secara harfiah berarti “kematian karena terlalu banyak kerja,” diciptakan pada tahun 1970-an karena jumlah kematian akibat bekerja berlebihan meningkat dengan cepat.

Beberapa korban karoshi bekerja sebanyak 110 jam seminggu,dan beberapa lainnya selama lebih dari 4.000 jam per tahun. Meskipun terdengar mengerikan, orang-orang ini berada di antara kelompok usia 25-60. Ada seorang perawat yang meninggal akibat serangan jantung karena telah melakukan pekerjaan sif  32 jam lima kali dalam bulan itu.

Alasan utama untuk bekerja berlebihan dikaitkan dengan pertumbuhan dan perkembangan eksponensial Jepang tanpa populasi kerja yang cukup. Juga, resesi ekonomi mengakibatkan pengurangan staf, tanpa mengurangi pekerjaan, yang mengakibatkan tekanan ekstrem pada para pekerja.

Pemerintah Jepang telah menjadi tuan rumah acara kencan cepat dengan harapan tingkat rasio kelahiran anak akan meningkat lantaran populasi di negara itu telah turun lebih dari 1 juta sejak 2010.

Kencan cepat di Jepang
Kencan cepat di Jepang

Meskipun ada banyak negara lain yang mencoba untuk menghidupkan kembali pertumbuhan populasinya, pemerintah Jepang justru benari mengambil langkah yang unik dan berbeda.

Pemerintah telah mengatur layanan kencan cepat di seluruh negara dalam upaya mendorong orang untuk menikah. Ketidakseimbangan populasi dan penurunannya yang stabil telah menjadi salah satu masalah utama bagi Jepang. Mayoritas penduduk semakin tua atau sudah tua.

Penurunan terus menerus dalam kelahiran anak dan populasi yang semakin menua telah mengakibatkan penurunan populasi lebih dari satu juta sejak 2010. Alasan utamanya cukup aneh, yaitu Jepang tidak memiliki banyak waktu untuk berhubungan seks.

Sebagian besar penduduk bekerja lebih dari 80 jam seminggu dan beberapa bahkan tanpa hari libur. Hal ini telah mengakibatkan masalah kesehatan yang serius di kalangan pemuda, menyebabkan kematian mendadak. Juga, ada kecenderungan untuk tidak menikah di kalangan pemuda dan ini justru semakin memperkeruh situasi.

Inisiatif kencan cepat oleh pemerintah ditujukan dan membawa para lajang lebih dekat untuk menemukan pasangan potensial, menikah, dan punya anak.

Jika Anda mengunjungi Jepang dan melihat banyak sekali orang yang memakai masker bedah, jangan khawatir, bukan karena penyakitan atau polusi, melainkan itu telah menjadi tren mode, cara untuk menjaga wajah tetap hangat, dan untuk menghindari interaksi dengan orang asing

Tren masker wajah di Jepang
Tren masker wajah di Jepang

Produksi masker bedah adalah industri multi-juta dolar, karena tren yang dimulai sebagai langkah pencegahan kesehatan telah berubah menjadi tren mode ikonik yang digandrungi.

Meskipun awalnya dipasarkan untuk orang yang menderita berbagai alergi, masker ini sekarang memiliki banyak kegunaan lain seperti menjaga mulut tetap hangat dan menghindari interaksi dengan orang asing.

Alasan aneh lainnya bagi sejumlah besar wanita yang mengenakan masker adalah mereka terlalu malas untuk berdandan. Di negara seperti Jepang dimana seseorang wanita diharapkan untuk selalu berdandan dan berdandan, masker bedah adalah alat yang sangat nyaman untuk menghindari kritik yang tidak diinginkan tanpa riasan.

Karena fungsinya adalah sebagai tren mode, masker semacam itu kini telah hadir dalam berbagai warna dan pola. Jadi, seseorang dapat memiliki masker yang cocok dengan pakaian setiap hari. Bahkan juga memiliki aroma wewangian yang berbeda-beda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here