Tiga Dampak Buruk Kemiskinan pada Kehidupan Masyarakat

Kemiskinan ekstrem dan kelaparan
Kemiskinan ekstrem dan kelaparan

Fakta sosial mengungkapkan bahwa mereka yang terlahir ‘kurang beruntung’ cenderung mendapat yang terburuk dalam segalanya. Jadi dalam hal ini, mereka akan sangat sulit untuk keluar dari kemiskinan itu sendiri. Secara umum, mereka yang kurang beruntung ini akan memiliki taraf kesehatan yang lebih buruk, layanan pendidikan berkualitas rendah, dan seringkali tinggal di lingkungan atau komunitas yang lebih banyak kejahatan serta disfungsional.

Dengan semua beban kehidupan yang dimilikinya, tak bisa dipungkiri kemiskinan cenderung berdampak pada harapan hidup yang lebih rendah dibanding mereka yang berada di kelas menengah dan atas.

Kekurangan Makanan

Nutrisi yang buruk sering sejalan dengan kemiskinan. Orang miskin seringkali tidak mampu membeli produk makanan mahal yang kaya protein, seperti daging, unggas, makanan laut, dan susu.

San Francisco Chronicle menunjukkan mengapa protein itu penting: “Otak anak-anak membutuhkan protein agar berfungsi dengan baik. Diet sehat termasuk sumber protein berkualitas tinggi akan memungkinkan otak anak tumbuh dan berkembang. Belajar terjadi di otak, tetapi otak juga memberi tahu tubuh apa yang harus dilakukan, seperti menggerakkan otot, bernapas, dan menyuruh jantung untuk berdetak. Semua tindakan ini membutuhkan protein. “

Sebuah studi 2011 yang diterbitkan dalam The British Medical Journal menunjukkan hubungan antara diet tinggi gula, lemak, dan makanan olahan dengan skor IQ yang lebih rendah pada anak-anak.

Jadi, seorang anak miskin yang dibesarkan dengan diet rendah protein biasanya akan mengalami perkembangan otak lebih rendah atau tertinggal saat memasuki taman kanak-kanak. Belajar jadi lebih sulit, sehingga anak-anak dari keluarga miskin cenderung lebih banyak mengalami kendala dalam setiap belajarnya.

Lebih jauh lagi, hal ini juga bisa berdampak pada pekerjaan dengan keterampilan rendah, upah rendah dan kelanjutan dari siklus kemiskinan pada kehidupan selanjutnya.

Ilmuwan politik Charles Murray adalah penulis buku The Bell Curve 1996 yang membahas hubungan antara kecerdasan dan kekayaan. Dia mengatakan dalam sebuah wawancara podcast bahwa “Kurva Bell membuat saya peka (tahu) sejauh mana IQ tinggi adalah keberuntungan murni. Kita hidup dalam masyarakat yang dibuat khusus untuk IQ tinggi dan orang-orang yang mendapatkan jalan pintas, layak mendapatkan kekaguman dan dukungan jika mereka melakukan semuanya dengan benar. “

Keluarga berpenghasilan rendah seringkali mengganti makanan berkualitas baik seperti buah-buahan dan sayuran segar dengan makanan murah yang padat energi. Jadi ada kecenderungan konsumsi tinggi “makanan ringan kemasan dan makanan cepat saji tradisional seperti burger keju, ayam goreng, dan kentang goreng, serta jenis roti seperti donat yang terkenal akan kepadatan energinya”. (SUmber: North Carolina State University).

Makanan semacam itu memang dapat menghilangkan rasa lapar tetapi tidak menyediakan cukup nutrisi yang dibutuhkan tubuh kita. Hal itu bukan karena orang miskin tidak tahu yang lebih baik. Menurut Here’s The Conversation: “Berlawanan dengan kepercayaan populer, orang yang mengalami kemiskinan makanan (sebenarnya) tidak mengabaikan apa yang harus mereka makan sebagai bagian dari diet sehat. Ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa faktor terpenting untuk memiliki diet sehat adalah akses ke makanan sehat dengan harga yang lebih terjangkau”.

Yang Lebih Kaya Adalah Yang Lebih Sehat

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa kemiskinan adalah faktor terpenting yang menyebabkan kesehatan buruk.

Reset.org adalah organisasi yang mempromosikan pembangunan berkelanjutan. Dikatakan bahwa “Kemiskinan dan penyakit terjebak dalam lingkaran setan yang berkelanjutan. Penelitian lain menunjukkan bahwa tingkat infeksi penyakit tertentu paling tinggi di daerah di mana kemiskinan merebak. ”

Bagi jutaan orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem (kurang dari $ 1,90 per hari) ada ancaman kematian yang selalu ada karena kelaparan. PBB memperkirakan bahwa 25.000 orang meninggal karena kelaparan setiap harinya.

Sekarat karena kekurangan makanan memang terjadi di negara maju, tetapi masih relatif jarang. Di negara-negara kaya, obesitas adalah pembunuh paling besar, dan ini pun terjadi lebih banyak di antara orang miskin daripada mereka yang punya uang.

Seperti yang telah dicatat, orang miskin cenderung makan lebih banyak makanan bergula, berlemak, dan padat energi. Hal ini memiliki efek menyebabkan orang menambah berat badan. Memiliki tubuh yang terlalu gemuk (obesitas) dapat berkontribusi terhadap penyakit jantung dan diabetes.

Menjadi miskin di negara kaya berarti memiliki lebih sedikit pilihan akan hal-hal yang memengaruhi kesehatan. Perumahan berkualitas rendah juga memiliki efek negatif pada kesehatan, begitu pula soal kepadatan penduduk. Kondisi hidup yang buruk membuat masalah kesehatan mental lebih buruk dan menyebabkan orang kemudian melampiaskannya dengan alkohol dan obat-obatan untuk meningkatkan suasana hatinya.

Evidence Network mencatat bahwa jenis kanker tertentu “lebih tinggi di antara orang Kanada dengan pendapatan lebih rendah. Bukti menunjukkan bahwa beberapa hal ini terkait dengan tingkat merokok dan obesitas yang lebih tinggi”. Menurut Evidence Network yang juga mengutip penelitian lain mengatakan bahwa orang yang lebih kaya memiliki pilihan pengobatan kanker yang lebih baik daripada orang miskin.

Kelompok pemeriksa fakta fullfact.org di Inggris menunjukkan bahwa kemiskinan memengaruhi harapan hidup: “Anak laki-laki yang lahir di beberapa daerah termiskin di Inggris diperkirakan akan hidup sembilan tahun lebih sedikit daripada mereka yang berada di daerah paling kaya. Untuk anak perempuan angkanya adalah tujuh tahun. “

Menurut sumber data Canada Without Poverty, sebuah studi Universitas McMaster, “menemukan perbedaan 21 tahun dalam harapan hidup antara penghuni lingkungan termiskin dan mereka yang berada di lingkungan terkaya di Hamilton, Ontario.”

Kesenjangan harapan hidup yang serupa juga telah banyak ditemukan di sebagian besar negara-negara industri Barat.

Kejahatan dan Kekerasan

Aristoteles, filsuf Yunani kuno, menulis bahwa “Kemiskinan adalah induk dari kejahatan”.

Akademisi Swedia Amir Sariaslan memiliki beberapa bukti untuk mendukung pernyataan Aristoteles 2.300 tahun kemudian.

Dia dan rekannya mengumpulkan data pada setengah juta remaja Skandinavia dan perilaku kriminal yang mereka lakukan. Menulis tentang penelitian ini, The Economist mencatat (Agustus 2014), “Di Swedia usia tanggung jawab kriminal adalah 15, jadi Mr. Sariaslan melacak subyeknya dari tanggal ulang tahun ke 15, dan seterusnya, dengan rata-rata tiga dan setengah tahun. “

Temuan itu cukup gamblang. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan miskin “tujuh kali lebih mungkin dihukum karena melakukan tindak kekerasan” daripada usia yang sama dari komunitas kaya. Dengan kejahatan narkoba, kelipatannya dua kali.

Peneliti lain mengatakan ada komponen genetik terkait kriminalitas. Faktanya, gen yang terkait dengan perilaku buruk lebih sering ditemukan pada mereka yang hidup dalam kemiskinan. Teorinya adalah bahwa kejahatan dan sikap buruk menurunkan kekuatan penghasilan orang.

Di sisi lain, Statistik Kanada melaporkan bahwa “masalah seperti sampah; orang tidur di jalanan; aksi huru-hara; pelecehan dan serangan yang dimotivasi oleh intoleransi rasial; penggunaan narkoba dan perdagangan; perjudian dan vandalisme dilaporkan dua kali lebih sering oleh kelompok berpenghasilan terendah dibandingkan dengan kelompok berpenghasilan tertinggi. “

Orang miskin ada di luar masyarakat arus utama, sebuah kondisi yang dikatakan filsuf Thomas Hobbes pada abad ke-17 sebagai “soliter, miskin, jahat, kejam, dan pendek”.0

Sumber:

  • “The Conservative Case for a Guaranteed Income.” Margaret Wente, Globe and Mail, August 3, 2018.
  • “Diseases and the Links to Poverty.” Reset.org, undated.
  • “Role of Protein in Brain Function for Kids.” San Francisco Chronicle, undated.
  • “Energy Dense Foods.” Rutherford County Center, NCSU, August 2017.
  • “Poor Diet Is the Result of Poverty Not Lack of Education.” Lynne Kennedy, The Conversation, May 6, 2014.
  • “Poor Childhood Diet Linked to Low IQ, Study Suggests.” Nathan Grey, Food Navigator.com, February 8, 2011.
  • “Backgrounder: The Impact of Poverty on Health.” Carolyn Shimmin, The Evidence Network, undated.
  • “Life Expectancy and Poverty.” Fullfact.org, July 18, 2016.
  • “To Have and Have Not.” The Economist, August 21, 2014.

Leave a Comment